Minggu, 02 Desember 2018

Kepribadian Seorang Dai


KEPRIBADIAN SEORANG DAI
Disusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Semester Ganjil
Mata Kuliah : Sosiologi dan Antropologi Dakwah
DosenPengampu : Mas’udi, S. Fil.I M. A

DisusunOleh :
1.      Uuli Kufita Imtikhana                        ( 1740210039)
 

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI KUDUS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
2018

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dakwah dalam Islam merupakan tugas seorang dai untuk menyebarluaskan agama Islam. Dakwah bukanlah hal yang semudah dalam pikiran kita, seorang dai harus mempersiapkan matang-matang baik dari segi ilmu, cara penyampaian maupun budi pekerti seorang dai yang baik. Dakwah tidak akan berhasil jika seorang dai tidak mempunyai ilmu pengetahuan yang memadai dan tingkah laku yang buruk secara pribadi ataupun social.
Dai adalah salah satu factor dalam kegiatan dakwah yang sangat penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan dakwah. Setiap orang yang menjalankan aktifitas dakwah hendaknya memiliki kepribadian yang baik sebagai seorang dai, pada dasarnya mencakup masalah sifat, sikap, dan kemampuan diri dari seorang dai dimana tiga masalah ini dapat mencakup keseluruhan kepribadian yang harus di milikinya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa devinisi dari kepribadian ?
2.      Apa unsure-unsur dalam kepribadian ?
3.      Apa materi dari unsure-unsur kepribadian ?
4.      Apa macam-macam kepribadian ?
5.      Bagaimana kepribadian yang harus dimiliki seorang dai ?
C.     Tujuan
1.      Mengetahui pengertian kepribadian.
2.      Mengetahui  unsure-unsur dalam kepribadian.
3.      Mengetahui materi yang ada dalam unsure-unsur kepribadian.
4.      Mengetahui macam-macam kepribadian.
5.      Menegetahui kepribadian yang harus dimiliki seorang dai.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Devinisi Kepribadian
Para ahli biologi dan dokter banyak yang mempelajari tentang manusia, diantaranya mereka mempelajari anatomi, fisiologi, dan patologi manusia namun sampai sekarang belum di ketahui pola-pola kelakuan manusia secara jelas. Hal ini disebabkan manusia memiliki akal dan jiwa sehingga kelakuan manusia tidak hanya bergantung pada system organic biologinya. Hal ini berakibat pada beraneka ragamnya pola kelakuan manusia satu dengan manusia lainnya. Oleh karena itu, banyak ahli antropologi, sosiologi dan psikologi yang mempelajari pola-pola tingkah laku atau pola-pola tindakan manusia. [1]
Penentu perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap individu manusia adalah susunan unsure-unsur akal dan jiwa yang disebut dengan kepribadian. Dalam bahasa popular, istilah kepribadian berarti ciri-ciri watak seseorang individu yang konsisten artinya seseorang dikatakan mempunyai kepribadian ketika orang tersebut memiliki ciri watak yang diperlihatkan secara lahir, konsisten dan konsekuen dalam tingkah lakunya sehingga tampak bahwa individu tersebut memiliki identitas khusus yang berbeda dengan yang lainnya.
Adapun pengertian kepribadian menurut para ahli, yaitu:
1.      Yinger: Kepribadian adalah keseluruhan dari seorang individu dengan system kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian instruksi.
2.      Cuber: Kepribadian adalah gabungan keseluruhan dari sifat-sifat yang tampak dan dapat dilihat oleh seseorang.
3.      M.A.W Bouwer: Kepribadian adalah corak tingkah laku social yang meliputi corak kekuatan, dorongan keinginan, opini dan sikap-sikap seseorang.
4.      Theodore R. Newcombe: Kepribadian adalah organisasi sikap-sikap yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku.
5.      Koentjraningrat: Kepribadian adalah susunan unsure-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap individu manusia tersebut.
Konsep kepribadian adalah sebuah konsep yang sangat luas sehingga tidak mungkin untuk di rumuskan dalam satu devinisi yang tajam namun mencakup keseluruhan.
B.     Unsure-Unsur kepribadian
Ada beberapa unsure dalam kepribadian, diantaranya adalah:[2]
1.      Pengetahuan
Otak manusia merupakan pusat koordinasi tubuh dan unsure-unsur yang mengisi akal dan jiwa seseorang yang sadar terkandung di dalam otaknya. Setiap harinya otak manusia di isi dengan bermacam-macam hal yang di alami melalui pancaindranya dan alat reseptor organ lain, misal getaran eter (cahaya dan warna), getaran akustik (suara), bau, rasa, tekanan mekanikal (berat-ringan), tekanan termikal (panas-dingin), dan lain sebagainya. Selanjutnya getaran dan tekanan yang masuk ke otak akan di olah di dalam otak dan menjadi sebuah gambaran tentang lingkungan tersebut. Dalam ilmu psikologi hal tersebut disebut dengan “persepsi”.
Penggambaran tentang lingkungan dengan focus pada bagian-bagian yang paling menarik perhatian seorang individu, seringkali juga diolah oleh suatu proses dalam akalnya yang menghubungkan penggambaran tadi dengan berbagai penggambran lain sejenis yang pernah diterima dan diproyeksikan oleh akalnya dalam masa lalu, kemudian timbul sebagai kenangan atau penggambaran lama dalam kesadarannya. Penggambaran baru dengan pengertian baru tersebut dalam ilmu psikologi disebut “apersepsi”.
Seorang individu dapat juga menggabungkan antara penggambaran satu dengan penggambaran lain baik sejenis maupun tidak sejenis sehingga menghasilkan sebuah penggambaran baru yang di olah oleh otak. Dengan demikian, seorang individu memiliki kemampuan untuk membentuk penggambran baru yang bersifat abstrak. Penggambran abstrak tersebut dalam ilmu-ilmu social disebut “konsep”.
Dalam penggambaran yang dijelaskan tadi  maka penggambaran tentang lingkungannya tersebut ada yang ditambah-tambah dan dibesar-besarkan, ada pula yang dikurang-kurangi dan di kecil-kecilkan pada bagian tertentu. Terkadang justru ada yang menggabungkan penggambaran yang lain yang tidak sejenis yang menjadikan penggambaran baru yang bahkan belum pernah ada dan belum pernah terjadi. Penggmbaran tersebut dalam ilmu psikologi disebut “fantasi”.
Kemampuan yang dimiliki manusia dalam penggambarn tersebut menjadikan bisa mengembangkan ide dan gagasan-gagasan ideal, jika manusia tidak dapat mengembangkan penggmbaran-penggambaran tersebut maka cita-cita dan gagasan manusia tersebut tidak akan berkembang dan tidak akan bisa mengkreasikan karya-karya baru.
2.      Perasaan
Selain pengetahuan, alam bawah sadar manusia juga di pengaruhi oleh perasaan. Jika suatu hari yang panas dan kita melihat papan reklame iklan bergambarkan minuman yang segra maka saat itu pula persepsii kita membayangkan sebuah minuman yang dingin yang melegakan tenggorokan. Penggambaran individu yang menggambarkan diri sendiri sedang menikmati minuman tersebut menimbulkan sebuah perasaan yang positif.
Sebuah perasaan yang selalu bersifat subyektif karena adanya unsure penilaian tadi, maka biasanya akan menimbulkan suatu “kehendak” dalam kesadaran seorang individu. Kehendak tersebut bisa bersifat positif dan bisa pula bersifat negative.
Sebuah kehendak dapat menjadi sangat keras, hal tersebut terjadi ketika keinginan tersebut sulit diperoleh. Misal ketika kita ingin membeli sebotol coca-cola yang dingin dan saat itu kita sulit mendapatkannya maka keinginan tersebut akan menjadi sangat kuat. Bahkan bisa menjadi lebih besar lagi ketika kita tidak menjumpai coca-cola di tempat yang kita tuju bahkan cuaca menjadi sangat panas dan hati menjadi bedebar-debar. Hal tersebut biasa disebut “emosi”.
3.      Dorongan Naluri
Kesadaran manusia menurut para ahli psikologi juga mengandung berbagai perasaan lain yang tidak ditimbulkan karena pengaruh pengetahuannya, tetapi karena sudah terkandung dalam organnyakhususnya dalam gennya sebagi naluri. Kemauan yang sudah merupakan naluri pada tiap makhluk manusia tersebut oelh para ahli psikologi biasa disebut “dorongan”.
Meskipun perbedaan pendapat terjadi diantara para ahli psikologi, namun mereka sepakat bahwa ada tujuh macam dorongan naluri, yaitu:[3]
a.       Dorongan untuk mempertahankan hidup. Dorongan ini menjadi salah satu alasan mengapa manusia hidup di muka bumi sampai sekarang. Dorongan ini merupakan kekuatan biologis yang ada pada setiap makhluk hidup.
b.      Dorongan seks. Dorongan ini telah menjadi hal yang menarik untuk dipelajari oleh para ahli psikologi, dan berbagai teori telah dikembangkan menengenai ini. Suatu hal yang jelas adalah dorongan ini timbul dan ada pada setiap makhluk hidup yang normal tanpa terkena pengaruh pengetahuan. Dorongan ini mempunyai landasan biologis yang mendorong manusia untuk membentuk keturunan demi melestarikan jenisnya.
c.       Dorongan untuk upaya mencari makan. Dorongan ini tidak perlu dipelajari karena sejak lahir pun manusia sudah menunjukkannya yaitu dengan mencari botol susu atau mencari susu ibunya.  Hal tersebut tanpa adany pengetahuan dari manusia tersebut dan terjadi karena naluri.
d.      Dorongan untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesame manusia. Dorongan ini timbul karena adanya sifat social di dalam biologis manusia itu sendiri.
e.       Dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya. Dorongan ini adalah sumber dari adanya berbagai macam kebudayaan di antara manusia. Dengan adanya dorongan ini manusia memiliki dorongan untuk mengembangkan adat sesuai dengan lingkungsn sekitarnya.
f.       Dorongan untuk berbakti. Dorongan ini ada dalam naluri manusia karena manusia merupakan makhluk social sehingga untuk dapat hidup bersama dengan manusia lain secara serasi ia perlu mempunyai suatu landasan biologis untuk mengembangkan rasa alturisme, rasa empati, rasa cinta dan sebagainya, yang memungkinkan untuk hidup bersama. Jika dorongan untuk bebagai hal itu di ekstensikan dari sesame manusia kepada kekuatan-kekuatanyang oleh perasaannya dianggap berada di luar akal, maka akan timbul religi.
g.      Dorongan akan keindahan, dalam arti keindahan bentuk, warna, suara, atau gerak. Sejak lahir dorongan ini sudah mulai timbul ketika seorang bayi tertarik ketika melihat benda-benda tertentu di sekitarnya, warna-warna cerah, suara yang keras, dan lain sebagainya. Beberapa ahli berpendapat bahwa dorongan naluri ini merupakan landasan dari suatu unsure penting dalam kebudayaan manusia, yaitu “kesenian”.
C.     Materi Unsure-Unsur Kepribadian
Kepribadian seseorang terbentuk oleh pengetahuan yaitu persepsi, penggambaran, apersepsi, pengamatan, konsep dan fantasi tentang berbagai hal yang ada dalam lingkungannya. Selain pengetahuan, kepribadian seseorang juga terbetuk oleh berbagai perasaan, emosi dan keinginan tentang berbagai macam hal yang ada di lingkungannya.
Seorang ahli etnopsikologi bernama A.F.C. Wallace, pernah membuat suatu kerangka tentang seluruh materi yang menjadi objek dan sasaran unsure-unsur kepribadian manusia secara sistematis. Kerangka tersebut memuat tiga hal, yaitu:[4]
1.      Beragam kebutuhan biologis diri sendiri, beragam kebutuhan dan dorongan psikologis diri sendiri, dan beragam kebutuhan dan dorongan baik biologis maupun psikologis sesame manusia selain diri sendiri. Sedangkan kebutuhan tadi dapat dipenuhi atau tidak dipenuhi oleh individu yang bersangkutansehingga memuaskan dan bernilai positif baginya, atau tidak memuaskan dan bernilai negative.
2.      Beragam hal yang bersangkutan dengan kesadaran individu akan identita diri sendiri, baik aspek fisik  maupun psikologis, dan segala hal yang bersangkutan dengan kesadaran individu mengenai bermacam-macam kategori manusia, bintang, tumbuhan, benda, zat, kekuatan, gejala alam baik yang nyata maupun yang tidak nyata.
3.      Berbagai macam cara untuk memenuhi, memperkuat, berhubungan, mendapatkan atau mempergunakan beragam kebutuhan dari hal tersebut, sehingga tercapai keadaaan memuaskan dalam kesadaran individu bersangkutan. Pelaksana berbagai macam cara dan jalan tersebut terwujud dalam aktifitas hidup sehari-hari dari seorang individu.
D.    Macam-Macam Kepribadian
Kepribadian manusi menurut para ahli memiliki berbagai macam, antara lain:[5]
1.      Kepribadian Individu
Keragaman struktur kepribadian pada setiap manusia terbentuk karena adanya berbagai isi dan sasaran dari pengetahuan, perasaan, kehendak, dan keinginan kepribadian, serta perbedaan kualitas. Oleh sebab itu, kepribadian manusia menjadi beragam dan sangat unik.
Tugas seorang ilmu psikologi adalah mempelajari materi setiap unsure kepribadian, baik yang berupa pengetahuan maupun yang berupa perasaan, saran dari kehendak, keinginan dan emosi seseorang. Dalam hal tersebut diperhatikan satu macam materi yang menyebabkan satu tingkah laku berpola, yaitu suatu kebiasaan dn berbagai macam materi yang mnyebabkan timbulnya kepribadian, serta segala macam tingkah laku berpola dari individu yang bersangkutan.
Ilmu antropologi, dan ilmu-ilmu social lainnya seperti ilmu sosiologi, ilmu ekonomi, ilmu politik dan ilmu social lainnya sebenarnya tdiak mempelajari individu. Ilmu social tersebut mempelajari seluruh pengetahuan, gagasan dan konsep yang secara umum hidup dalam masyarakat, artinya pengetahuan, gagasan dan konsep yang dianut oleh sebagian besar warga suatu masyarakat, mereka biasa menyebutnya “adat istiadat”. Ilmu-ilmu tersebut juga mempelajari tingkah laku umum, yaitu tingkah laku yang menjadi pola bagi sebagian besar warga suatu masyarakat yang diatur oleh adat istiadat itu sendiri. Seluruh kompleks tingkah laku umum berwujud pola-pola tindakan yang saling berkaitan itu disebut system social.
Sebenarnya setiap manusia memiliki kepribadian yang berbeda karena materi yang merupakan isi dari pengetahuan dan perasaan seorang individu itu berbeda dengan individu lain, dan juga karena sifat dan intensitas kaitan antara berbagai macam bentuk pengetahuan dan perasaan pada setiap individu itu berbeda dengan individu lain. Namun hal ini bukan berarti ada sekitar tiga miliar jenis individu di muka bumi ini, karena rata-rata jumlah manusia di muka bumi ini sekitar tiga miliar jenis. Akan tetapi dengan jumlah beragam kepribadian yang banyak itu dapat diringkas menjadi berbagai macam tipe dan subtype yang walaupun banyak tapi tidak sampai berjuta-juta jumlahnya. Tugas seorang ahli psikologi adalah membuat tipologi dan beragam kepribadian individu dan ini bukan merupakan tugas seorang ajli ilmu antropologi dan ilmu social lainnya.
Ilmu antropologi dan ilmu social lainnya sering pula memperhatikan masalah kepribadian, namun jika ilmu social memperhatikan masalah kepribadian maka itu hanyalah unuk memerdalam dan memahami adat istiadat dan system social dari suatu masyarakat. Khususnya ilmu antropologi yang juga mempelajari tentang kepribadian yang ada pada masyarakat yang disebut kepribadian umum atau watak umum.
2.      Kepribadian Umum
Para pengarang etnografi kuno sering mendeskripsikan kepribadian seseorang itu secara subjektif menurut penglaman yang mereka alami, misalkan ketika si peneliti tersebut mengamati orang Jawa dan dia merasa senang maka ia akan berkata dalam penelitiannya bahwa orang Jawa adlah orang-orang yang baik, lembut dan sopan santun. Sebaliknya, ketika si peneliti mengamati orang Jawa dan dia tidak merasa senga bergaul dengan orang Jawa, maka dia akan mendiskripsikan bahwa orang Jawa adalah orang yang judes, penipu dan tidak bermoral.
Berdasarkan hal tersebut, seorang ahli antropologi yaitu R. Linton mengembangkan sebuah gagasan tentang kepribadian umum. Kemudian seorang ahli anropologi lain yaitu A. Kardiner merasa tertarik dengan proyek yang di gagas R. Linton, akhirnya keduanya melakukan penelitian terhadap penduduk Kepulauan Marquesas, dibagain timur Polinesia dan suku bangsa Tanala di bagian Timur Pulau Madagaskar. Dalam usaha tersebut Linton mencari bahan etnografinya sedangkan Kardiner menerapkan metode psikologinya dan menganalisis data psikologinya. Hasilnya adalah sebuah buku yang berjudul The Individual and His-Society.
3.      Kepribadian Barat dan Kepribadian Timur
Istilah kepribadian barat dan kepribadian timur ini muncul dari para penyair Eropa Barat, ketika mereka menyinggung pandangan hidup manusia yang hidup dalam kebudayaab-kebudayaan Asia, seperti kebudayaan Islam, Hindu, Budha, dan Cina yang berlokasi geografisnya semua memang di sebelah timur Eropa. Selanjutnya, semua kebudayaan bukan Eropa Barat disebut pandangan hidup dan kepribadian Timur. Dengan demikian timbul dua konsep kontras, yaitu kepribadian timur dan kepribadian barat.
Dalam rangka  pemakaian kedua konsep yang kontras itu, ada berbagai macam pandangan di antara para cendekiawan Indonesia, yang sering bersifat kabur. Mereka biasanya menyangka bahwa kepribadian timur mrmpunyai pandngan hidup yang mementingkan kehidupan kerohanian, mistik, pikiran prelogis, keramah-tamahan, dan kehidupan social. Sebaliknya, kepribadian barat mempunyai pandangan hidup yang mementingkan kehidupan material, pikiran logis, hubungan berdasarkan asas guna, dan individualism.
Mengenai sifat keramah-tamahan dalam kebudayaan timur, dan sifat asas guna dalam kebudayaan barat sebenarnya hanya suatu kontras yang relative. Adat sopan santun dalam budaya Indonesia memang mengisyaratkan sifat ramah namun hanya keramahan lahiriah saja. Berbeda dengan kebudayaan Eropa, bukan berarti mereka tidak memiliki adat sopan santun bahkan ketika orang Eropa bersikap ramah maka ia sungguh-sungguh ramah secara spontan dan tidak hanya rama tamah secara lahiriah saja.
Kendati psikologi timur itu banyak menaruh perhatian pada alam kesadaran dan hokum-hukum yang mengatur perubahannya, mereka juga mengandung teori-teori kepribadian yang cukup jelass. Tujuan dari psikologi timur adalah mengubah kesadaran seseorang agar mampu melampaui batas-batas yang diciptakan oleh kebiasaan-kebiasaan yang membentuk kepribadian orang itu.[6]
E.     Kepribadian seorang dai
Kata dai berasal dari bahasa Arab bentuk mudzakar (laki-laki) yang berarti orang yang mengajak, kalau muannas (perempuan) disebut daiyah[7]. Dalam kamus beasar bahasa Indonesia, dai adalah orang yang pekerjaannya berdakwah, melalui kegiatan dakwah para dai menyebarluaskan ajaran Islam. Dengan kata lain, dai adalah orang yang mengajak orang lain baik secara langsung, melalui lisan, tulisan atau perbuatan untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam.
Segala tingkah laku seorang dai akan dijadikan tolak ukur oleh masyarakatnya. Seorang dai seyogyanya memiliki kepribadian yang baik untuk menunjang keberhasilan dakwah, baik kepribadian yang bersifat jasmaniah (fisik) dan yang bersifat rohaniah (psikologis). Kenyataan ini secara tegas mengarahkan kepada hakikat seorang dai yang dituntut memiliki kemenyeluruhan perilaku sebagai teladan bagi orang lain.[8] Oleh sebab itu, seorang dai harus selalu sadar bahwa segala tingkah lakunya selalu dijadikan tolak ukur oleh masyrakatnya sehingga ia harus memiliki kepribadian yang baik.
Kepribadian adalah sikap dan perilaku seseorang yang terlihat oleh orang lain di luar dirinya. Sikap dan perilaku itu memberikan gambaran mengenai sifat-sifat khas, watak, kemampuan, keterampilan yang dimiliki, minat, dll. Ahli ilmu jiwa memberikan definisi kepribadian yaitu struktur dan proses-proses kejiwaan tetap yang mengatur pengalaman-pengalaman seseorang dan membentuk tindakan dan responnya terhadap lingkungannya dalam cara yang membedakannya dari orang lain. Dengan kata lain, kepribadian adalah sifat atau watak yang dimiliki seseorang yang tidak sama dengan orang lain, atau kepribadian ini merupakan ciri khas dari orang tersebut.

Dai dalam perspektif ilmu komunikasi dapat dikategorikan sebagai komunikator yang bertugas menyampaikan informasi-informasi kepada komunikan. Untuk menjadi seorang komunikator yang baik maka di tuntut memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi dari pada komunikan. Komunikator yang baik adalah komuikator yang dapat menyampaikan pesan kepada komunikan secara jelas. Menjadi seorang komunikator yang baik diperlukan tekad yang kuat dari dalam dirinya untuk menjadi lebih baik lagi. Maka dari itu, penting bagi seorang dai memiliki kepribadian yang baik yang ingin selalu mengembangkan dirinya ke arah yang lebih baik. Adapun kepribadian seorang dai sebagai berikut:
1.      Memiliki tingkat penerimaan yang baik.
 Menjadi seorang dai merupakan salah satu orang yang di tokohkan di wilayah tersebut, sehingga banyak dari masyarakat yang terkadang datang kepada dai tersebut untuk meminta saran atau solusi. Mad’u yang datang kepada seorang dai tentu tidak bisa dipastikan apakah dai berasal dari golongan orang kaya ataukah golongan orang miskin. Bila seorang dai mampu bersikap menerima apa adanya terhadap mad’u yang datang kepadanya maka ia memiliki kapasitas untuk menjadi penolong yang baik.
2.      Memiliki pemahaman atau empati yang tinggi terhadap mad’u.
Memahami seoarng mad’u bukan berartiseorang dai dapat membaca isi hati seorang mad’u, akan tetapi seorang dai berusaha untuk menjadi satu dengan mad’unya. Ketika seorang dai sudah menjadi satu dengan mad’unya otomatis dai tersebut bisa dengan mudah memahami kondisi mad’u tersebut.
3.      Memiliki sifat terbuka terhadap mad’u.
Ketika seorang dai terbuka terhadap mad’unya maka hal ini akan menimbulkan keterbukaan dari pihak mad’u, karena keterbukaan mad’u akan sangat membantu jalannya proses dakwah. Artinya, mad’u bersedia mengungkapkan segala sesuatu yang diperlukan demi suksesnya proses dakwah.
4.      Mendengarkan dengan baik.
Menjadi pendengar yang baik menjadi factor penting bagi seorang dai. Ketika seorang dai bisa menjadi pendengar yang baik maka ia bisa mendengar dengan panca indranya sekaligus bisa memahami apa yang mad’u ucapkan.














BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kata dai berasal dari bahasa Arab bentuk mudzakar (laki-laki) yang berarti orang yang mengajak, kalau muannas (perempuan) disebut daiyah. Dalam kamus beasar bahasa Indonesia, dai adalah orang yang pekerjaannya berdakwah, melalui kegiatan dakwah para dai menyebarluaskan ajaran Islam. Segala tingkah laku seorang dai akan dijadikan tolak ukur oleh masyarakatnya. Oleh sebab itu, seorang dai harus selalu sadar bahwa segala tingkah lakunya selalu dijadikan tolak ukur oleh masyrakatnya sehingga ia harus memiliki kepribadian yang baik.
Menjadi seorang dai selalu di tuntut untuk memiliki keperibadian, sifat dan perilaku yang baik. Untuk menjadi seorang dai yang ideal tentu di perlukan usaha yang harus di lakukan oleh seorang dai tersebut. Usaha ini mempengaruhi tingkat keberhasilan dalam proses dakwah kepada mad’u.















DAFTAR PUSTAKA

Hall S. Calvin. Psikologi Kepribadian. Yogyakarta: Kanisius
Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta. PT Rineka Cipta
Mas’udi. Basis Epistemologi Penyuluh Agama Islam. Vol. 3. No. 2. 2012
http://pulpylovers.wordpress.com





[1] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: PT Rineka cipta, 2015), hlm 82
[2]  Ibid, hlm 84-88
[3] Ibid, hlm 89-90
[4]  Ibid, hlm 90-91
[5]  Ibid, hlm. 93-99
[6] Calvin s. Hall, Psikologi Kepribadian, ( Yogyakarta: Kanisus), hlm 226
[7] https://pulpylovers.wordpress.com
[8] Mas’udi, Basis Epistemologi Penyuluh Agama Islam, Vol. 3, No. 2, 2012, hlm 110-111

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA A.     Pengertian Berita Berita adalah suatu informasi atau laporan tentang hal yang sedang/ telah terjadi dimana penyampaian...