KEPRIBADIAN SEORANG DAI
Disusun
Guna Memenuhi Tugas Akhir Semester Ganjil
Mata
Kuliah : Sosiologi dan Antropologi Dakwah
DosenPengampu
: Mas’udi, S. Fil.I M. A
DisusunOleh
:
1. Uuli
Kufita Imtikhana (
1740210039)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI KUDUS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
2018
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dakwah dalam Islam merupakan tugas seorang dai untuk
menyebarluaskan agama Islam. Dakwah bukanlah hal yang semudah dalam pikiran
kita, seorang dai harus mempersiapkan matang-matang baik dari segi ilmu, cara
penyampaian maupun budi pekerti seorang dai yang baik. Dakwah tidak akan
berhasil jika seorang dai tidak mempunyai ilmu pengetahuan yang memadai dan
tingkah laku yang buruk secara pribadi ataupun social.
Dai adalah salah satu factor dalam kegiatan dakwah
yang sangat penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan dakwah.
Setiap orang yang menjalankan aktifitas dakwah hendaknya memiliki kepribadian
yang baik sebagai seorang dai, pada dasarnya mencakup masalah sifat, sikap, dan
kemampuan diri dari seorang dai dimana tiga masalah ini dapat mencakup
keseluruhan kepribadian yang harus di milikinya.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
devinisi dari kepribadian ?
2. Apa
unsure-unsur dalam kepribadian ?
3. Apa
materi dari unsure-unsur kepribadian ?
4. Apa
macam-macam kepribadian ?
5. Bagaimana
kepribadian yang harus dimiliki seorang dai ?
C. Tujuan
1. Mengetahui
pengertian kepribadian.
2. Mengetahui unsure-unsur dalam kepribadian.
3. Mengetahui
materi yang ada dalam unsure-unsur kepribadian.
4. Mengetahui
macam-macam kepribadian.
5. Menegetahui
kepribadian yang harus dimiliki seorang dai.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Devinisi
Kepribadian
Para ahli biologi dan dokter banyak yang mempelajari
tentang manusia, diantaranya mereka mempelajari anatomi, fisiologi, dan
patologi manusia namun sampai sekarang belum di ketahui pola-pola kelakuan
manusia secara jelas. Hal ini disebabkan manusia memiliki akal dan jiwa
sehingga kelakuan manusia tidak hanya bergantung pada system organic
biologinya. Hal ini berakibat pada beraneka ragamnya pola kelakuan manusia satu
dengan manusia lainnya. Oleh karena itu, banyak ahli antropologi, sosiologi dan
psikologi yang mempelajari pola-pola tingkah laku atau pola-pola tindakan
manusia. [1]
Penentu perbedaan tingkah laku atau tindakan dari
tiap-tiap individu manusia adalah susunan unsure-unsur akal dan jiwa yang
disebut dengan kepribadian. Dalam bahasa popular, istilah kepribadian berarti ciri-ciri
watak seseorang individu yang konsisten artinya seseorang dikatakan mempunyai
kepribadian ketika orang tersebut memiliki ciri watak yang diperlihatkan secara
lahir, konsisten dan konsekuen dalam tingkah lakunya sehingga tampak bahwa
individu tersebut memiliki identitas khusus yang berbeda dengan yang lainnya.
Adapun pengertian kepribadian menurut para ahli,
yaitu:
1. Yinger:
Kepribadian adalah keseluruhan dari seorang individu dengan system
kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian instruksi.
2. Cuber:
Kepribadian adalah gabungan keseluruhan dari sifat-sifat yang tampak dan dapat
dilihat oleh seseorang.
3. M.A.W
Bouwer: Kepribadian adalah corak tingkah laku social yang meliputi corak
kekuatan, dorongan keinginan, opini dan sikap-sikap seseorang.
4. Theodore
R. Newcombe: Kepribadian adalah organisasi sikap-sikap yang dimiliki seseorang
sebagai latar belakang terhadap perilaku.
5. Koentjraningrat:
Kepribadian adalah susunan unsure-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan
tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap individu manusia tersebut.
Konsep kepribadian adalah sebuah konsep yang sangat
luas sehingga tidak mungkin untuk di rumuskan dalam satu devinisi yang tajam
namun mencakup keseluruhan.
B. Unsure-Unsur
kepribadian
Ada
beberapa unsure dalam kepribadian, diantaranya adalah:[2]
1. Pengetahuan
Otak
manusia merupakan pusat koordinasi tubuh dan unsure-unsur yang mengisi akal dan
jiwa seseorang yang sadar terkandung di dalam otaknya. Setiap harinya otak
manusia di isi dengan bermacam-macam hal yang di alami melalui pancaindranya
dan alat reseptor organ lain, misal getaran eter (cahaya dan warna), getaran
akustik (suara), bau, rasa, tekanan mekanikal (berat-ringan), tekanan termikal
(panas-dingin), dan lain sebagainya. Selanjutnya getaran dan tekanan yang masuk
ke otak akan di olah di dalam otak dan menjadi sebuah gambaran tentang
lingkungan tersebut. Dalam ilmu psikologi hal tersebut disebut dengan
“persepsi”.
Penggambaran
tentang lingkungan dengan focus pada bagian-bagian yang paling menarik
perhatian seorang individu, seringkali juga diolah oleh suatu proses dalam
akalnya yang menghubungkan penggambaran tadi dengan berbagai penggambran lain
sejenis yang pernah diterima dan diproyeksikan oleh akalnya dalam masa lalu,
kemudian timbul sebagai kenangan atau penggambaran lama dalam kesadarannya.
Penggambaran baru dengan pengertian baru tersebut dalam ilmu psikologi disebut
“apersepsi”.
Seorang
individu dapat juga menggabungkan antara penggambaran satu dengan penggambaran
lain baik sejenis maupun tidak sejenis sehingga menghasilkan sebuah
penggambaran baru yang di olah oleh otak. Dengan demikian, seorang individu
memiliki kemampuan untuk membentuk penggambran baru yang bersifat abstrak.
Penggambran abstrak tersebut dalam ilmu-ilmu social disebut “konsep”.
Dalam
penggambaran yang dijelaskan tadi maka
penggambaran tentang lingkungannya tersebut ada yang ditambah-tambah dan dibesar-besarkan,
ada pula yang dikurang-kurangi dan di kecil-kecilkan pada bagian tertentu.
Terkadang justru ada yang menggabungkan penggambaran yang lain yang tidak
sejenis yang menjadikan penggambaran baru yang bahkan belum pernah ada dan
belum pernah terjadi. Penggmbaran tersebut dalam ilmu psikologi disebut
“fantasi”.
Kemampuan
yang dimiliki manusia dalam penggambarn tersebut menjadikan bisa mengembangkan
ide dan gagasan-gagasan ideal, jika manusia tidak dapat mengembangkan
penggmbaran-penggambaran tersebut maka cita-cita dan gagasan manusia tersebut
tidak akan berkembang dan tidak akan bisa mengkreasikan karya-karya baru.
2. Perasaan
Selain
pengetahuan, alam bawah sadar manusia juga di pengaruhi oleh perasaan. Jika
suatu hari yang panas dan kita melihat papan reklame iklan bergambarkan minuman
yang segra maka saat itu pula persepsii kita membayangkan sebuah minuman yang
dingin yang melegakan tenggorokan. Penggambaran individu yang menggambarkan
diri sendiri sedang menikmati minuman tersebut menimbulkan sebuah perasaan yang
positif.
Sebuah
perasaan yang selalu bersifat subyektif karena adanya unsure penilaian tadi,
maka biasanya akan menimbulkan suatu “kehendak” dalam kesadaran seorang
individu. Kehendak tersebut bisa bersifat positif dan bisa pula bersifat negative.
Sebuah
kehendak dapat menjadi sangat keras, hal tersebut terjadi ketika keinginan
tersebut sulit diperoleh. Misal ketika kita ingin membeli sebotol coca-cola
yang dingin dan saat itu kita sulit mendapatkannya maka keinginan tersebut akan
menjadi sangat kuat. Bahkan bisa menjadi lebih besar lagi ketika kita tidak
menjumpai coca-cola di tempat yang kita tuju bahkan cuaca menjadi sangat panas
dan hati menjadi bedebar-debar. Hal tersebut biasa disebut “emosi”.
3. Dorongan
Naluri
Kesadaran
manusia menurut para ahli psikologi juga mengandung berbagai perasaan lain yang
tidak ditimbulkan karena pengaruh pengetahuannya, tetapi karena sudah
terkandung dalam organnyakhususnya dalam gennya sebagi naluri. Kemauan yang
sudah merupakan naluri pada tiap makhluk manusia tersebut oelh para ahli
psikologi biasa disebut “dorongan”.
Meskipun
perbedaan pendapat terjadi diantara para ahli psikologi, namun mereka sepakat
bahwa ada tujuh macam dorongan naluri, yaitu:[3]
a. Dorongan
untuk mempertahankan hidup. Dorongan ini menjadi salah satu alasan mengapa
manusia hidup di muka bumi sampai sekarang. Dorongan ini merupakan kekuatan
biologis yang ada pada setiap makhluk hidup.
b. Dorongan
seks. Dorongan ini telah menjadi hal yang menarik untuk dipelajari oleh para
ahli psikologi, dan berbagai teori telah dikembangkan menengenai ini. Suatu hal
yang jelas adalah dorongan ini timbul dan ada pada setiap makhluk hidup yang
normal tanpa terkena pengaruh pengetahuan. Dorongan ini mempunyai landasan
biologis yang mendorong manusia untuk membentuk keturunan demi melestarikan
jenisnya.
c. Dorongan
untuk upaya mencari makan. Dorongan ini tidak perlu dipelajari karena sejak
lahir pun manusia sudah menunjukkannya yaitu dengan mencari botol susu atau
mencari susu ibunya. Hal tersebut tanpa
adany pengetahuan dari manusia tersebut dan terjadi karena naluri.
d. Dorongan
untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesame manusia. Dorongan ini timbul
karena adanya sifat social di dalam biologis manusia itu sendiri.
e. Dorongan
untuk meniru tingkah laku sesamanya. Dorongan ini adalah sumber dari adanya
berbagai macam kebudayaan di antara manusia. Dengan adanya dorongan ini manusia
memiliki dorongan untuk mengembangkan adat sesuai dengan lingkungsn sekitarnya.
f. Dorongan
untuk berbakti. Dorongan ini ada dalam naluri manusia karena manusia merupakan
makhluk social sehingga untuk dapat hidup bersama dengan manusia lain secara
serasi ia perlu mempunyai suatu landasan biologis untuk mengembangkan rasa
alturisme, rasa empati, rasa cinta dan sebagainya, yang memungkinkan untuk
hidup bersama. Jika dorongan untuk bebagai hal itu di ekstensikan dari sesame
manusia kepada kekuatan-kekuatanyang oleh perasaannya dianggap berada di luar
akal, maka akan timbul religi.
g. Dorongan
akan keindahan, dalam arti keindahan bentuk, warna, suara, atau gerak. Sejak
lahir dorongan ini sudah mulai timbul ketika seorang bayi tertarik ketika
melihat benda-benda tertentu di sekitarnya, warna-warna cerah, suara yang
keras, dan lain sebagainya. Beberapa ahli berpendapat bahwa dorongan naluri ini
merupakan landasan dari suatu unsure penting dalam kebudayaan manusia, yaitu
“kesenian”.
C. Materi
Unsure-Unsur Kepribadian
Kepribadian seseorang terbentuk oleh pengetahuan
yaitu persepsi, penggambaran, apersepsi, pengamatan, konsep dan fantasi tentang
berbagai hal yang ada dalam lingkungannya. Selain pengetahuan, kepribadian
seseorang juga terbetuk oleh berbagai perasaan, emosi dan keinginan tentang
berbagai macam hal yang ada di lingkungannya.
Seorang ahli etnopsikologi bernama A.F.C. Wallace,
pernah membuat suatu kerangka tentang seluruh materi yang menjadi objek dan
sasaran unsure-unsur kepribadian manusia secara sistematis. Kerangka tersebut
memuat tiga hal, yaitu:[4]
1. Beragam
kebutuhan biologis diri sendiri, beragam kebutuhan dan dorongan psikologis diri
sendiri, dan beragam kebutuhan dan dorongan baik biologis maupun psikologis
sesame manusia selain diri sendiri. Sedangkan kebutuhan tadi dapat dipenuhi
atau tidak dipenuhi oleh individu yang bersangkutansehingga memuaskan dan
bernilai positif baginya, atau tidak memuaskan dan bernilai negative.
2. Beragam
hal yang bersangkutan dengan kesadaran individu akan identita diri sendiri,
baik aspek fisik maupun psikologis, dan
segala hal yang bersangkutan dengan kesadaran individu mengenai bermacam-macam
kategori manusia, bintang, tumbuhan, benda, zat, kekuatan, gejala alam baik
yang nyata maupun yang tidak nyata.
3. Berbagai
macam cara untuk memenuhi, memperkuat, berhubungan, mendapatkan atau
mempergunakan beragam kebutuhan dari hal tersebut, sehingga tercapai keadaaan
memuaskan dalam kesadaran individu bersangkutan. Pelaksana berbagai macam cara
dan jalan tersebut terwujud dalam aktifitas hidup sehari-hari dari seorang
individu.
D. Macam-Macam
Kepribadian
Kepribadian
manusi menurut para ahli memiliki berbagai macam, antara lain:[5]
1. Kepribadian
Individu
Keragaman
struktur kepribadian pada setiap manusia terbentuk karena adanya berbagai isi
dan sasaran dari pengetahuan, perasaan, kehendak, dan keinginan kepribadian,
serta perbedaan kualitas. Oleh sebab itu, kepribadian manusia menjadi beragam
dan sangat unik.
Tugas
seorang ilmu psikologi adalah mempelajari materi setiap unsure kepribadian,
baik yang berupa pengetahuan maupun yang berupa perasaan, saran dari kehendak,
keinginan dan emosi seseorang. Dalam hal tersebut diperhatikan satu macam
materi yang menyebabkan satu tingkah laku berpola, yaitu suatu kebiasaan dn
berbagai macam materi yang mnyebabkan timbulnya kepribadian, serta segala macam
tingkah laku berpola dari individu yang bersangkutan.
Ilmu
antropologi, dan ilmu-ilmu social lainnya seperti ilmu sosiologi, ilmu ekonomi,
ilmu politik dan ilmu social lainnya sebenarnya tdiak mempelajari individu.
Ilmu social tersebut mempelajari seluruh pengetahuan, gagasan dan konsep yang
secara umum hidup dalam masyarakat, artinya pengetahuan, gagasan dan konsep yang
dianut oleh sebagian besar warga suatu masyarakat, mereka biasa menyebutnya
“adat istiadat”. Ilmu-ilmu tersebut juga mempelajari tingkah laku umum, yaitu
tingkah laku yang menjadi pola bagi sebagian besar warga suatu masyarakat yang
diatur oleh adat istiadat itu sendiri. Seluruh kompleks tingkah laku umum
berwujud pola-pola tindakan yang saling berkaitan itu disebut system social.
Sebenarnya
setiap manusia memiliki kepribadian yang berbeda karena materi yang merupakan
isi dari pengetahuan dan perasaan seorang individu itu berbeda dengan individu
lain, dan juga karena sifat dan intensitas kaitan antara berbagai macam bentuk
pengetahuan dan perasaan pada setiap individu itu berbeda dengan individu lain.
Namun hal ini bukan berarti ada sekitar tiga miliar jenis individu di muka bumi
ini, karena rata-rata jumlah manusia di muka bumi ini sekitar tiga miliar
jenis. Akan tetapi dengan jumlah beragam kepribadian yang banyak itu dapat
diringkas menjadi berbagai macam tipe dan subtype yang walaupun banyak tapi tidak
sampai berjuta-juta jumlahnya. Tugas seorang ahli psikologi adalah membuat
tipologi dan beragam kepribadian individu dan ini bukan merupakan tugas seorang
ajli ilmu antropologi dan ilmu social lainnya.
Ilmu
antropologi dan ilmu social lainnya sering pula memperhatikan masalah
kepribadian, namun jika ilmu social memperhatikan masalah kepribadian maka itu
hanyalah unuk memerdalam dan memahami adat istiadat dan system social dari
suatu masyarakat. Khususnya ilmu antropologi yang juga mempelajari tentang kepribadian
yang ada pada masyarakat yang disebut kepribadian umum atau watak umum.
2. Kepribadian
Umum
Para
pengarang etnografi kuno sering mendeskripsikan kepribadian seseorang itu
secara subjektif menurut penglaman yang mereka alami, misalkan ketika si peneliti
tersebut mengamati orang Jawa dan dia merasa senang maka ia akan berkata dalam
penelitiannya bahwa orang Jawa adlah orang-orang yang baik, lembut dan sopan
santun. Sebaliknya, ketika si peneliti mengamati orang Jawa dan dia tidak
merasa senga bergaul dengan orang Jawa, maka dia akan mendiskripsikan bahwa
orang Jawa adalah orang yang judes, penipu dan tidak bermoral.
Berdasarkan
hal tersebut, seorang ahli antropologi yaitu R. Linton mengembangkan sebuah
gagasan tentang kepribadian umum. Kemudian seorang ahli anropologi lain yaitu
A. Kardiner merasa tertarik dengan proyek yang di gagas R. Linton, akhirnya
keduanya melakukan penelitian terhadap penduduk Kepulauan Marquesas, dibagain
timur Polinesia dan suku bangsa Tanala di bagian Timur Pulau Madagaskar. Dalam
usaha tersebut Linton mencari bahan etnografinya sedangkan Kardiner menerapkan
metode psikologinya dan menganalisis data psikologinya. Hasilnya adalah sebuah
buku yang berjudul The Individual and
His-Society.
3. Kepribadian
Barat dan Kepribadian Timur
Istilah
kepribadian barat dan kepribadian timur ini muncul dari para penyair Eropa
Barat, ketika mereka menyinggung pandangan hidup manusia yang hidup dalam
kebudayaab-kebudayaan Asia, seperti kebudayaan Islam, Hindu, Budha, dan Cina
yang berlokasi geografisnya semua memang di sebelah timur Eropa. Selanjutnya,
semua kebudayaan bukan Eropa Barat disebut pandangan hidup dan kepribadian
Timur. Dengan demikian timbul dua konsep kontras, yaitu kepribadian timur dan
kepribadian barat.
Dalam
rangka pemakaian kedua konsep yang
kontras itu, ada berbagai macam pandangan di antara para cendekiawan Indonesia,
yang sering bersifat kabur. Mereka biasanya menyangka bahwa kepribadian timur
mrmpunyai pandngan hidup yang mementingkan kehidupan kerohanian, mistik,
pikiran prelogis, keramah-tamahan, dan kehidupan social. Sebaliknya,
kepribadian barat mempunyai pandangan hidup yang mementingkan kehidupan
material, pikiran logis, hubungan berdasarkan asas guna, dan individualism.
Mengenai
sifat keramah-tamahan dalam kebudayaan timur, dan sifat asas guna dalam
kebudayaan barat sebenarnya hanya suatu kontras yang relative. Adat sopan
santun dalam budaya Indonesia memang mengisyaratkan sifat ramah namun hanya
keramahan lahiriah saja. Berbeda dengan kebudayaan Eropa, bukan berarti mereka
tidak memiliki adat sopan santun bahkan ketika orang Eropa bersikap ramah maka
ia sungguh-sungguh ramah secara spontan dan tidak hanya rama tamah secara
lahiriah saja.
Kendati
psikologi timur itu banyak menaruh perhatian pada alam kesadaran dan hokum-hukum
yang mengatur perubahannya, mereka juga mengandung teori-teori kepribadian yang
cukup jelass. Tujuan dari psikologi timur adalah mengubah kesadaran seseorang
agar mampu melampaui batas-batas yang diciptakan oleh kebiasaan-kebiasaan yang
membentuk kepribadian orang itu.[6]
E. Kepribadian
seorang dai
Kata dai berasal dari bahasa Arab bentuk mudzakar
(laki-laki) yang berarti orang yang mengajak, kalau muannas (perempuan) disebut
daiyah[7].
Dalam kamus beasar bahasa Indonesia, dai adalah orang yang pekerjaannya berdakwah,
melalui kegiatan dakwah para dai menyebarluaskan ajaran Islam. Dengan kata
lain, dai adalah orang yang mengajak orang lain baik secara langsung, melalui
lisan, tulisan atau perbuatan untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam.
Segala tingkah laku seorang dai akan dijadikan tolak
ukur oleh masyarakatnya. Seorang dai seyogyanya memiliki kepribadian yang baik
untuk menunjang keberhasilan dakwah, baik kepribadian yang bersifat jasmaniah
(fisik) dan yang bersifat rohaniah (psikologis). Kenyataan ini secara tegas
mengarahkan kepada hakikat seorang dai yang dituntut memiliki kemenyeluruhan
perilaku sebagai teladan bagi orang lain.[8]
Oleh sebab itu, seorang dai harus selalu sadar bahwa segala tingkah lakunya
selalu dijadikan tolak ukur oleh masyrakatnya sehingga ia harus memiliki
kepribadian yang baik.
Kepribadian adalah sikap dan perilaku seseorang yang
terlihat oleh orang lain di luar dirinya. Sikap dan perilaku itu memberikan
gambaran mengenai sifat-sifat khas, watak, kemampuan, keterampilan yang
dimiliki, minat, dll. Ahli ilmu jiwa memberikan definisi kepribadian yaitu
struktur dan proses-proses kejiwaan tetap yang mengatur pengalaman-pengalaman
seseorang dan membentuk tindakan dan responnya terhadap lingkungannya dalam
cara yang membedakannya dari orang lain. Dengan kata lain, kepribadian adalah
sifat atau watak yang dimiliki seseorang yang tidak sama dengan orang lain,
atau kepribadian ini merupakan ciri khas dari orang tersebut.
Dai dalam perspektif ilmu komunikasi dapat
dikategorikan sebagai komunikator yang bertugas menyampaikan
informasi-informasi kepada komunikan. Untuk menjadi seorang komunikator yang
baik maka di tuntut memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi dari pada
komunikan. Komunikator yang baik adalah komuikator yang dapat menyampaikan
pesan kepada komunikan secara jelas. Menjadi seorang komunikator yang baik
diperlukan tekad yang kuat dari dalam dirinya untuk menjadi lebih baik lagi.
Maka dari itu, penting bagi seorang dai memiliki kepribadian yang baik yang
ingin selalu mengembangkan dirinya ke arah yang lebih baik. Adapun kepribadian
seorang dai sebagai berikut:
1. Memiliki
tingkat penerimaan yang baik.
Menjadi seorang dai merupakan salah satu orang
yang di tokohkan di wilayah tersebut, sehingga banyak dari masyarakat yang
terkadang datang kepada dai tersebut untuk meminta saran atau solusi. Mad’u
yang datang kepada seorang dai tentu tidak bisa dipastikan apakah dai berasal
dari golongan orang kaya ataukah golongan orang miskin. Bila seorang dai mampu
bersikap menerima apa adanya terhadap mad’u yang datang kepadanya maka ia
memiliki kapasitas untuk menjadi penolong yang baik.
2. Memiliki
pemahaman atau empati yang tinggi terhadap mad’u.
Memahami seoarng mad’u
bukan berartiseorang dai dapat membaca isi hati seorang mad’u, akan tetapi
seorang dai berusaha untuk menjadi satu dengan mad’unya. Ketika seorang dai
sudah menjadi satu dengan mad’unya otomatis dai tersebut bisa dengan mudah
memahami kondisi mad’u tersebut.
3. Memiliki
sifat terbuka terhadap mad’u.
Ketika seorang dai
terbuka terhadap mad’unya maka hal ini akan menimbulkan keterbukaan dari pihak
mad’u, karena keterbukaan mad’u akan sangat membantu jalannya proses dakwah.
Artinya, mad’u bersedia mengungkapkan segala sesuatu yang diperlukan demi
suksesnya proses dakwah.
4. Mendengarkan
dengan baik.
Menjadi pendengar yang
baik menjadi factor penting bagi seorang dai. Ketika seorang dai bisa menjadi
pendengar yang baik maka ia bisa mendengar dengan panca indranya sekaligus bisa
memahami apa yang mad’u ucapkan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kata
dai berasal dari bahasa Arab bentuk mudzakar (laki-laki) yang berarti orang
yang mengajak, kalau muannas (perempuan) disebut daiyah. Dalam kamus beasar
bahasa Indonesia, dai adalah orang yang pekerjaannya berdakwah, melalui
kegiatan dakwah para dai menyebarluaskan ajaran Islam. Segala tingkah laku
seorang dai akan dijadikan tolak ukur oleh masyarakatnya. Oleh sebab itu,
seorang dai harus selalu sadar bahwa segala tingkah lakunya selalu dijadikan
tolak ukur oleh masyrakatnya sehingga ia harus memiliki kepribadian yang baik.
Menjadi
seorang dai selalu di tuntut untuk memiliki keperibadian, sifat dan perilaku
yang baik. Untuk menjadi seorang dai yang ideal tentu di perlukan usaha yang
harus di lakukan oleh seorang dai tersebut. Usaha ini mempengaruhi tingkat keberhasilan
dalam proses dakwah kepada mad’u.
DAFTAR PUSTAKA
Hall S. Calvin. Psikologi
Kepribadian. Yogyakarta: Kanisius
Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta. PT Rineka Cipta
Mas’udi. Basis Epistemologi Penyuluh Agama Islam.
Vol. 3. No. 2. 2012
http://pulpylovers.wordpress.com
[1] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: PT
Rineka cipta, 2015), hlm 82
[2] Ibid, hlm 84-88
[3]
Ibid, hlm 89-90
[4] Ibid, hlm 90-91
[5] Ibid, hlm. 93-99
[6] Calvin s. Hall, Psikologi Kepribadian, ( Yogyakarta: Kanisus),
hlm 226
[7]
https://pulpylovers.wordpress.com
[8] Mas’udi, Basis Epistemologi Penyuluh Agama Islam, Vol. 3, No. 2, 2012, hlm
110-111

Tidak ada komentar:
Posting Komentar